YAHOO.COM - Bank Dunia memperingatkan, suhu global dapat meningkat empat derajat
Celsius abad ini bila pencegahan tidak segera dilakukan, yang berpotensi
merugikan kota-kota miskin dan yang terletak di pesisir.
Bank
Dunia mengaitkan kekayaan masa depan planet ini — terutama di wilayah
berkembang — dengan upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dari
sumber-sumber seperti produksi energi.
"Waktunya sangat, sangat singkat. Dunia harus mengatasi masalah
perubahan iklim dengan langkah agresif," kata Presiden Bank Dunia Jim
Yong Kim saat konferensi pers penerbitan laporan untuk pemberi pinjaman
global.
"Kita tidak akan pernah mengakhiri kemiskinan jika tidak
mengatasi perubahan iklim. Ini adalah salah satu tantangan terbesar bagi
keadilan sosial saat ini."
Penelitian menunjukkan, suhu Bumi
bisa meningkat empat derajat Celsius di atas tingkat pra-industri pada
awal 2060-an jika janji-janji pemerintah untuk memerangi perubahan iklim
tidak terpenuhi.
Bahkan jika banyak negara memenuhi perjanjian
iklim saat ini, masih ada kemungkinan kenaikan empat derajat sekitar 20
persen pada 2100. Penelitian mengatakan, kenaikan tiga derajat mungkin
akan terjadi. Negosiasi iklim yang dipimpin PBB telah berusaha membatasi
kenaikan suhu tidak lebih dari dua derajat.
"Peningkatan empat derajat suhu dunia harus dan bisa dihindari. Kita
harus menahan pemanasan global di bawah dua derajat," kata Kim.
"Kurangnya tindakan ambisius pada ancaman perubahan iklim akan
menempatkan kesejahteraan jauh dari jangkauan jutaan orang dan
memundurkan dekade pembangunan."
Sekjen PBB Ban Ki-moon
mengatakan dalam sebuah pernyataan, penelitian menunjukkan perlunya
pelaksanaan komitmen negara-negara di dunia, yang dibuat tahun lalu di
Durban, Afrika Selatan, untuk membuat perjanjian iklim baru yang
mengikat secara hukum pada 2015.
Lebih dari 190 negara dalam
Framework Convention on Climate Change memulai pembicaraan tahunan
terbaru pada 26 November di Qatar.
Suhu global meningkat sekitar 0,8 derajat Celcius. Planet ini telah
memecahkan rekor peningkatan suhu selama satu dekade terakhir dan sering
mengalami bencana yang disebabkan perubahan iklim, menurut penelitian
para ahli, badai besar Sandy contohnya, yang menerjang Haiti dan Pantai
Timur AS baru-baru ini.
Laporan itu menunjukkan bahwa, jika suhu
meningkat empat derajat, banyak wilayah akan merasakan dampak yang
berbeda — gelombang panas di Rusia baru-baru ini bisa menjadi bencana
tahunan dan suhu pada Juli di Mediterania bisa sembilan derajat lebih
tinggi dari tingkat terhangat area itu saat ini.
Dalam skenario itu, keasaman lautan bisa meningkat pada tingkat yang
belum pernah terjadi dalam sejarah dunia sebelumnya, yang mengancam
keberadaan terumbu karang yang melindungi garis pantai dan menyediakan
habitat bagi spesies ikan.
Kenaikan permukaan laut bisa
menggenangi wilayah pesisir. Kota yang paling rentan terkena dampaknya
berada di Bangladesh, India, Indonesia, Madagaskar, Meksiko, Mozambik,
Filipina, Venezuela dan Vietnam, menurut penelitian tersebut.
"Banyak pulau-pulau kecil mungkin tidak akan berpenghuni sama sekali. Akan ada keanekaragaman hayati yang punah," kata Kim.
Penelitian
ini menunjukkan, dampak yang paling mengkhawatirkan mungkin terjadi
pada produksi pangan, dan dunia sudah berjuang untuk memenuhi permintaan
populasi yang terus tumbuh dan semakin kaya yang mengonsumsi lebih
banyak daging.
Daerah dataran rendah seperti Bangladesh, Mesir,
Vietnam dan sebagian pantai Afrika bisa mengalami pukulan besar untuk
produksi pangan, dan kekeringan parah menghambat pertanian di daerah
lain, menurut penelitian tersebut.
Banjir juga bisa mencemari air minum, yang meningkatkan penyebaran penyakit seperti diare.
Peringatan bahaya dirancang untuk mendorong tindakan tegas, namun laporan itu tidak fokus pada langkah-langkah potensial.
Kim
meminta untuk mengurangi ketergantungan pada batubara, bentuk energi
paling kotor tetapi sensitif secara politis di Amerika Serikat dan China
karena pekerjaan industri.
Kim mengatakan bahwa Bank Dunia
bertekad mendukung energi yang dapat diperbaharui dalam penyaluran
pinjamannya, dengan mengatakan, "Kami melakukan segala cara untuk tidak
berinvestasi pada batubara — segala sesuatu yang bisa kami lakukan."
Perang
melawan perubahan iklim menghadapi hambatan politik dari sejumlah
negara termasuk Amerika Serikat, karena anggota parlemen konservatif di
sana menyatakan tindakan itu terlalu mahal dan mengungkapkan keraguan
mereka pada ilmu pengetahuan.
Kim, seorang dokter dan mantan
presiden Dartmouth College yang diminta Presiden AS Barack Obama untuk
bekerja di Bank Dunia, mengatakan bahwa 97 persen dari para ilmuwan
sepakat bahwa aktivitas manusia menyebabkan perubahan iklim.
"Sebagai
seseorang yang telah lama berkecimpung di dunia ilmu pengetahuan, angka
97 persen itu konsensus yang belum pernah dicapai sebelumnya," katanya.
Laporan
itu dibuat oleh Climate Analytical dan Potsdam Institute for Climate
Impact Research yang berbasis di Jerman. Bank Dunia mengatakan pihaknya
tidak mempertimbangkan penelitian itu menjadi pengganti kajian ilmiah
tentang perubahan iklim selanjutnya yang didukung PBB pada 2014.





No comments:
Post a Comment